7148 – ANDI YOUNA | Just another Weblog Universitas Esa Unggul site

Protocol

Pengertian dan Sejarah Protokoler

Dalam pengertian luas protokoler adalah seluruh hal yang mengatur pelaksanaan suatu kegiatan baik dalam kedinasan/kantor maupun masyarakat

Sejarah Kata Protokol

Secara estimologis istilah protokol dalam bahasa Inggris protocol, bahasa Perancis protocole, bahasa Latin protocoll(um) dan  bahasa Yunani protocollon.  Dalam kamus Bahasa Inggris Oxford,

“Protocol is the code of ceremonial forms or courtesies used in official dealings, as between heads of state or diplomats.”

Awalnya, istilah protokol berarti halaman pertama yang dilekatkan pada sebuah manuskrip atau naskah. Sejalan dengan perkembangan jaman, pengertiannya berkembang semakin luas tidak hanya sekedar halaman pertama dari suatu naskah, melainkan keselurahan naskah yang isinya terdiri dari catatan, dokumen persetujuan, perjanjian, dan lain-lain dalam lingkup secara nasional maupun internasional.

Perkembangan selanjutnya, protokol berarti kebiasan-kebiasan dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan formalitas, tata urutan dan etiket diplomatik. Aturan-aturan protokoler ini menjadi acuan institusi pemerintahan dan berlaku secara universal.

Masalah protokoler ditujukan pada keberhasilan pelaksanaan suatu kegiatan dan pada hal-hal yang mengatur seluruh manusia yang terlibat dalam pelaksanaan suatu kegiatan.  Suatu kegiatan apapun pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari hasil kerja tahapan-tahapan sebelumnya. Tahapan-tahapan tersebut diperlukan untuk menunjang suksesnya puncak acara.

Dalam Rapat Kerja Nasional-Rakernas Protokol tanggal 7-9 Maret 2004 di Jakarta disepakati keprotokolan adalah ”Norma-norma atau aturan-aturan atau kebiasaan yang dianut atau diyakini dalam kehidupan bernegara, berbangsa, pemerintah dan masyarakat.”

Keprotokolan di Indonesia diatur dalam Undang-undang nomor 8 tahun 1987, ialah serangkaian aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang meliputi aturan mengenai tata tempat, tata upacara dan tata penghormatan kepada seseorang sesuai dengan jabatan atau kedudukannya dalam negara, pemerintahan atau masyarakat.

Persyaratan Menjadi Protokoler.

Persyaratan untuk menjadi protokoler yaitu :

  1. Mempunyai pengetahuan dan pengalaman luas terutama dalam hubungan antar manusia
  2. Bermental kuat dan kepribadian tangguh
  3. Trampil dan cekatan menguasai situasi
  4. Mampu mengambil keputusan dengan cepat tetapi cermat
  5. Sangat peka terhadap permasalahan yang timbul
  6. Sangat memahami perasaan orang lain
  7. Sederhana dan sopan serta hormat pada setiap orang
  8. Pandai membawa diri dan selalu mawas diri
  9. Rendah hati tetapi tidak rendah diri
  10. Penampilan menarik
  11. Pandai berbusana sesuai dengan suasana
  12. Berbahasa dengan tekanan dan suara yang baik
  13. Memiliki pengetahuan tentang ketatausahaan dan unsur-unsur manajemen
  14. Menguasai istilah-istilah baru dan bahasa asing

Adapun yang mengatur kegiatan protokol adalah pejabat protokol yang berkompenten dalam menyelenggarakan keprotokolan dan seseorang yang memiliki tugas dan fungsi yang berkaitan dengan keprotokolan.

Jenis-jenis Kegiatan Protokol

Jenis-jenis kegiatan keprotokolan dapat meliputi:

Jenis Kegiatan yang bersifat umum dapat pula berlaku di tingkat Universitas/ Perguruan tinggi/ Kedinasan instansi, antara lain berbentuk:

  1. Upacara pelantikan dan serah terima jabatan
  2. Upacara penandatanganan naskah kerjasama
  3. Upacara sumpah pegawai
  4. Upacara peresmian/ pembukaan gedung baru
  5. Peresmian pembukaan seminar, symposium, siskusi dan sebagainya

Jenis kegiatan yang bersifat Universitas/ Perguruan tinggi:

  1. Upacara Dies Natalies
  2. Upacara wisuda sarjana
  3. Upacara pengukuhan guru besar
  4. Upacara promosi Doktor/ Doktor Honoris Causa

Aktivitas Protokoler

Aktivitasnya terdiri atas 5 hal yaitu:

  • Tata ruang,

Tata ruang adalah pengatur ruang atau tempat yang akan dipergunakan sebagai tempat aktivitas.  Ruang harus dipersiapkan sesuai dengan ketentuan, tergantung dari jenis aktivitas.

  1. Perangkat keras, adalah berbagai macam perlengkapan yang diperlukan untuk maksud suatu kegiatan berupa meja, kursi/sofa, sound system/ public address, dekorasi, permadani, bendera, taman dan lain sebagainya
  2. Perangkat lunak, antara lain personil yang terlibat dalam rangka pelaksanaan suatu kegiatan seperti, penerima tamu, pemandu acara, petugas keamanan, petugas konsumsi dan sebagainya.

Yang perlu diperhatikan :

  1. Ruang harus sesuai dengan kebutuhan (jumlah kursi dan meja)
  2. Papan nama petunjuk yang diperlukan
  3. Tata suara yang memadai, disesuaikan dengan tata ruang dan tempat
  4. Tata lampu yang mencukupi kebutuhan.

Penjelasan mengenai perangkat keras sudah disebutkan, namun masih perlu diingat mengenai :

1)   Jumlah kursi, meja dan perlengkapan sound system, perlengkapan konsumsi

2)   Perangkat lunak, terdiri dari personil yang bertugas sebagai pelaksana di lapangan, termasuk pemandu acara/pembawa acara, penerima tamu, konsumsi, keamanan dan sebagainya

3)   Khusus Pemandu Acara (MC),

  • Tata upacara,

Tata upacara adalah tata urutan kegiatan, yaitu bagaimana suatu acara harus disusun sesuai dengan jenis aktivitasnya.  Untuk keperluan itu harus diperhatikan:

1)      jenis kegiatan;

2)      bahasa pengantar yang dipergunakan;

3)      materi aktivitas.

Dalam tata upacara, supaya direncanakan siapa yang akan terlibat dalam kegiatan upacara, personil penyelenggara dan alat penunjang lain.  Pengisi acara, misal dalam memberikan sambutan, diperhatikan jenjang jabatan mereka yang akan memberikan sambutan.  Kesediaan mereka yang menyambut, jauh sebelumnya sudah dihubungi.  Untuk kelancaran suatu “upacara” diperlukan seorang “stage manager” yang bertugas menjadi penghubung antara pembawa acara dan pelaksana upacara.

  • Tata Tempat,

Kata preseance berasal dari bahasa Perancis atau dalam bahasa Inggris precende yang artinya urutan. Maksudnya disini adalah urutan berdasarkan prioritas, atau siapa yang lebih dulu.

Secara keseluruhan, dapat diartikan preseance adalah ketentuan atau norma yang berlaku dalam hal tata duduk para pejabat, yang biasanya didasarkan atas kedudukan ketatanegaraan dari pejabat yang bersangkutan, kedudukan administratif/struktural dan kedudukan sosial. Tata urutan tempat duduk di Indonesia diatur dengan Keputusan Presiden nomor 265 tahun 1968.

Pihak-pihak yang berhak didahulukan dalam preseance:

  1. Golongan Very Important Person (VIP), pihak yang didahulukan karena jabarannya atau kedudukannya.
  2. Golongan Very Important Citizen (VIC), pihak yang didahulukan karena derajatnya, misalnya bangsawan dan sebagainnya.

Pedoman Preseance:

Aturan dasar Preseance

  1. Orang yang dianggap paling utama atau tertinggi, mempunyai urutan paling depan atau mendahului,
  2. Jika orang-orang dalam posisi duduk atau berdiri berjajar, yang paling penting adalah mereka yang di sebelah kanan.
  3. Aturan umum tata tempat
    • Jika duduknya menghadap meja, yang dianggap tempat pertama adalah menghadap pintu keluar. Yang duduk di dekat pintu dianggap paling terakhir.
    • Dalam pengaturan tempat suatu jajaran (dari sisi ke sisi), yaitu bila orang-orang tersebut berjajar pada garis yang sama, maka tempat sebelah kanan di luar atau tempat yang paling tengah adalah yang pertama tergantung situasi.
    • Aturan tempat duduk

Urutan tempat duduk diatur menurut aturan sebagai berikut:

  1. Yang didahulukan adalah tempat duduk yang paling tinggi
  2. Berikutnya diatur secara berurutan berdasarkan letak tempat sebelah yang utama, sebelah kanan merupakan urutan nomor tiga, sebelah kiri urutan nomor tiga.
  3. Atutan urutan memasuki kendaraan

Tata urutan memasuki kenderaan, bagi undangan resmi atau kenegaraan memerlukan perhatian dan penanganan khusus bahkan perencanaan yang matang. Tipe kendaraan juga mempengaruhi pengaturan itu. Peranan pengemudi, ia juga harus mengenal pengetahuan protokoler, termasuk penampilannya.

  • Tata Busana,

Tata busana disini ialah pakaian yang harus yang dimaksud ialah pakaian yang harus dikenakan pada suatu aktivitas protokoler, baik oleh para pejabat undangan ataupun pelaksana kegiatan.

Tata busana harus ditentukan atau dicantumkan pada surat undangan yang dikirimkan baik formal maupun informal.

  • Tata Warkat.

Pengaturan mengenai undangan yang akan dikirim untuk suatu kegiatan. Hal yang perlu diperhatikan ialah:

  1. Daftar nama tamu yang akan diundang hendaknya sudah disiapkan sesuai dengan jenis/keperluan kegiatan.
  2. Jumlah undangan disesuaikan dengan kapasitas tempat, kepentingan serta tercapainya tujuan kegiatan sendiri.
  3. Bentuk undangan sedapat mungkin dibakukan untuk setiap jenis kegiatan, baik mengenai format, isi dan sebagainya.
  4. Menulis nama orang yang diundang hendaknya secara benar dan jelas baik mengenai nama, pangkat, jabatan dan alamatnya.
  5. Dalam undangan perlu dijelaskan undangan diperuntukkan beserta istri/suami atau tidak.  Tidak dibenarkan dalam undangan resmi disebutkan undangan berlaku untuk beberapa orang.
  6. Mencantumkan kode undangan pada sampul undangan untuk mempermudah penempatan duduknya.
  7. Mencantumkan ketentuan mengenai pakaian yang dikenakan.
  8. Menentukan batas waktu penerimaan tamu.
  9. Catatan dalam undangan agar memberitahukan kehadirannya atau ketidak hadirannya (RSVP yang merupakan singkatan: Respondez s’il vous plaiz)
  10. Undangan dikirim dalam waktu relatif tidak terlalu lama dengan waktu pelaksanaan kegiatan (seminggu sebelumnya hendaknya sudah terkirim).
  • Tata Cara Mengatur Kegiatan Protokol

Dalam mengatur kegiatan keprotokolan harus memiliki:

  1. Tata cara, setiap kegiatan acara harus dilakukan secara tertib, khidmat serta setiap perbuatan atau tindakan yang dilakukan menurut aturan dan urutan yang telah dilakukan.
  2. Tata krama, yaitu etiket dalam pemberian penghormatan
  3. Aplikasi aturan-aturan, yaitu penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang keprotokolan dan yang berkaitan dengan keprotokolan harus berlaku selaras dengan situasi dan kondisi.

Peran dan Fungsi Protokoler

Peran dan fungsi protokoler turut menentukan keberhasilan kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi atau institusi. Disamping itu, protokol juga merupakan bagian yang melekat dari aktivitas perusahaan dan turut mewarnai budaya kerja, terutama bagi para petugas protokol yang sangat dekat perannya dalam mendukung tugas kepemimpinan, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Diperlukan adanya keberadaan protokol dalam sebuah lembaga/ perusahaan adalah karena protokol ikut menentukan terciptanya suasana yang memperngaruhi keberhasilan suatu acara yang dibuat oleh perusahaan tersebut. Selain itu dapat menciptakan tata pergaulan yang mndekatkan satu sama lain dan dapat diterima oleh semua pihak, terciptanya upacara yang khidmat, megah, dan agung, serta terciptanya ketertiban dan rasa aman dalam menjalankan tugas.

 

Daftar Pustaka

  • Erwin Parengkuan & Becky Tumewu, Personal Brand-inc, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2014.

 

Body Language, Eye Contact, and Facial Expression

Body Language

Penggunaan bahasa tubuh dalam berkomunikasi, biasa disebut sebagai komunikasi non-ujaran (non-verbal communication). Kita perlu mengetahui cara menggunakan bahasa tubuh sebagai cara penekanan ekspresi pesan yang akan disampaikan. Hal ini penting untuk menghindari terjadinya distorsi informasi.

Ketika berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ujaran (verbal communication) orang acap menggunakan bantuan gerak-gerik anggota tubuh [seperti mata, tangan, kepala, dll). Kemampuan memanfaatkan anggota tubuh merupakan aset komunikasi dan bukan sekedar tampilan fisik. Jika digunakan secara tepat dan benar akan menimbulkan rasa tenteram (bagi diri sendiri atau pendengar), memperjelas bahasa ujaran dan sekaligus akan menghasilkan dampak positif yang mungkin tidak diduga. Sebagai contoh, cara berdiri, bergerak, menatap, dan tersenyum yang dimanipulasikan sedemikian rupa akan memberi nuansa komunikatif terhadap penampilan kata-kata.

Beberapa teknik sederhana yang dapat digunakan adalah:

  1. Lakukan   tatapan  mata  setiap  saat,  pada  individu  atau kelompok tertentu untuk memperoleh keyakinan bahwa mereka memperhatikan  konten  yang   sedang dibicarakan untuk menumbuhkan rasa percaya diri sebagai  pembicara.  Jika keberanian  untuk  melakukan hal ini belum ada, layangkan selalu  tatapan  mata kebagian pendengar di barisan belakang. Kekhawatiran itu akan terkikis  sedikit demi  sedikit selama  berbicara sehingga akhirnya  timbul  keberanian  menatap pada satu arah pendengar tertentu. Jangan lupa memberi keseimbangan  tatapan, berganti  arah. (Jangan  sekali-kali menatap  ke  bahan tertulis konten  pembicaraan/menunduk selama berbicara).
  2. Gunakan bahasa tangan untuk mengilustrasikan poin-poin ujaran yang disampai­kan. Jika tidak terbiasa menggunakan gerakan tangan sebagai aksentuasi, silang­kan  saja  dibagian punggung (jika bicara sambil berdiri) atau  di  balik  podium (jika  berdiri di mimbar). Jangan sekali-kali menggunakan gerakan  tangan  yang menunjukkan  kegelisahan  atau sebaliknya membuat gerakan yang membuat pendengar menjadi tidak tenteram (misal, memutar-mutar pulpen dengan  tangan atau mengetuk-ngetukkannya di meja selama berbicara).
  3. Bergerak santai jika bicara sambil berdiri. Tapi jangan mundar mandir dari  satu sisi  ke sisi  yang lain terlalu cepat (seperti orang sedang adu  lari)  atau  terlalu diatur (sehingga terkesan seperti pragawati).
  4. Rileks dan santai, jangan tegang. Dalam berkomunikasi dihindari ada rasa beban. Kalau tidak akan terjadi ketegangan dan ketidakteraturan berbicara. Dengan demikian interaksi komunikasi yang positif tidak terjadi.
  5. Senyum  dan  senyum.  Ini akan menimbulkan keyakinan pada  diri  sendiri  dan rasa akrab bagi pendengar. Selalu tersenyum sambil menceritakan suatu  anekdot  atau humor yang terkait dengan bahan pembicaraan akan  membuat  pende­ngar  benar-benar  menikmati  humor dan anekdot tersebut [paling tidak untuk sopan santun, mereka akan turut tertawa juga]. Dan ini penting buat pembicara.  Sebab, jika humor tidak bersambut akan mengakibatkan hilang kontrol dan  percaya diri pembicara juga akan hilang.

Akhirnya,  apa pun konten pembicaraan yang akan disampaikan maka keberhasilannya akan bergantung  pada kemampuan menggabungkan unsur isi pembicaraan, pengungkapannya dalam bahasa ujaran, dan aksentuasinya dalam bentuk non-ujaran atau bahasa tubuh. Semua ini harus bersifat sinergis.

Eye Contact

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang dapat mengantarkan kehangatan pembicara dan pendengar. Masing-masing terlibat dalam topik yang dibicarakan. Sehingga keduanya merasa betah bercengkrama meski tidak terasa telah menghabiskan waktu berjam-jam. Untuk meraih kenyamanan komunikasi ini, ada satu hal yang perlu kita perhatikan, yaitu peran eye contact dalam komunikasi.Bisa dibayangkan, perasaan apa yang akan muncul saat si pembicara menyampaikan informasi, namun dia tidak sedikit pun melihat / menatap pendengar? Perasaan negatif akan timbul akibat ketidak piawaian dalam berkomunikasi. Pendengar mungkin akan beranggapan bahwa si pembicara tidak menghargainya, atau tidak sudi melihatnya, atau bahkan ia di cap memiliki etika yang buruk. Oleh karena itu, untuk menjalin komunikasi yang baik, ada baiknya anda lakukan hal berikut:1.    Tataplah mata si pendengar dengan wajar. Eye contact saat berkomunikasi memang penting. Namun bila dilakukan secara nonstop tentu hal ini akan menimbulkan dampak yang buruk. Karenanya, tataplah lawan bicara anda dengan wajar. Pandanglah ia dengan pandangan yang tidak terlalu tajam.2.    Sesekali alihkan tatapan kearah lain.Hal ini ditujukan agar tidak terjadi kontak mata yang begitu tajam. Di samping itu, mengalihkan pandangan dalam skala tertentu dapat menjaga kenyamanan berkomunikasi.3.    Tidak menatap bagian tubuh yang sensitif.Orang akan merasa risih bila bagian privasi tubuhnya dipandang. Ia akan memproteksi diri akibat ketidak nyamanan ini. Jika hal ini di biarkan, tentu orang yang diajak berbicara akan merasa tidak betah, dan lebih memilih meninggalkan kita dengan segera.4.    Keuntungan yang bisa anda dapatkan dari eye contact.·      Menarik perhatian dari pendengar.Salah satu manfaat yang dapat kita petik dari kontak mata adalah menarik perhatian orang yang kita ajak bicara. Sebab saat kita menatapnya dengan wajar, ia merasa bahwa ia sedang diperhatikan. Dan biasanya, orang akan mengungkapkan pesan dengan penuh semangat jika diperhatikan dengan baik.·      Mendengar merasa lebih dihargai saat ia diperhatikan.Bayangkan saat saya berbicara dengan anda, namun saya tidak memandang anda sedikit pun. Mungkin anda berpikir saya orang yang beretika buruk, tidak menghargai orang yang diajak berbicara. Jika demikian, bisa jadi anda akan menghindar dan meninggalkan saya.   Menjaga eye contact saat berkomunikasi adalah hal krusial untuk menjalin percakapan yang menyenangkan. Eye contact dapat mengukuhkan hubungan komunikasi yang erat. Sehingga masing-masing pembicara akan merasakan kenyamanan dalam menyampaikan pesan. Dan hal inilah yang dapat mempererat hubungan keduanya.

Facial Expression

Ekspresi wajah atau mimik adalah hasil dari satu atau lebih gerakan atau posisi otot pada wajah. Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal, dan dapat menyampaikan keadaan emosi dari seseorang kepada orang yang mengamatinya. Ekspresi wajah merupakan salah satu cara penting dalam menyampaikan pesan sosial dalam kehidupan manusia.

Manusia dapat mengalami ekspresi wajah tertentu secara sengaja, tapi umumnya ekspresi wajah dialami secara tidak sengaja akibat perasaan atau emosi manusia tersebut. Biasanya amat sulit untuk menyembunyikan perasaan atau emosi tertentu dari wajah, walaupun banyak orang yang merasa amat ingin melakukannya. Misalnya, orang yang mencoba menyembunyikan perasaan bencinya terhadap seseorang, pada saat tertentu tanpa sengaja akan menunjukkan perasaannya tersebut di wajahnya, walaupun ia berusaha menunjukkan ekspresi netral. Hubungan perasaan dan ekspresi wajah juga dapat berjalan sebaliknya, pengamatan menunjukkan bahwa melakukan ekspresi wajah tertentu dengan sengaja (misalnya: tersenyum), dapat memengaruhi atau menyebabkan perasaan terkait benar-benar terjadi.

Sebagian ekspresi wajah dapat diketahui maksudnya dengan mudah, bahkan oleh anggota spesies yang berbeda, misalnya kemarahan dan kepuasan. Namun, beberapa ekspresi lainnya sulit diartikan, misalnya ketakutan dan kejijikan kadang sulit dibedakan. Selain itu, kadang-kadang suatu wajah dapat disalahartikan mengalami emosi tertentu, karena susunan otot-otot wajah orang tersebut secara alami menyerupai wajah seseorang yang mengalami ekspresi tertentu, misalnya wajah seseorang yang tampak selalu tersenyum.

 

Daftar Pustaka

  • Charles Bonar Sirait, The Power of Public Speaking. Cetakan ke 4. Jakarta. Gramedia. 2013 P120-122
  • Erwin Parengkuan & Becky Tumewu, Personal Brand-inc, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2014.

Vocal Expression

Vocal Expression

Vokalik atau paralanguage adalah unsur nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu cara berbicara. Ilmu yang mempelajari hal ini disebut paralinguistik. Contohnya adalah nada bicara, nada suara, keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lain-lain. Selain itu, penggunaan suara-suara pengisi seperti “mm”, “e”, “o”, “um”, saat berbicara juga tergolong unsur vokalik, dan dalam komunikasi yang baik hal-hal seperti ini harus dihindari.

Jika warna suara Anda dimaknai berbeda dari pesan yang disimbolkan oleh kata-kata, pesan vokal lebih kuat efeknya daripada pesan verbal. Ucapan yang sama bisa bermakna berbeda ketika seseorang mengujarkannya dengan berbagai warna suara. Ketika Anda berkomunikasi dengan seseorang, pastikan kata-kata Anda cocok dengan warna suara yang Anda gunakan.

Untuk bisa memiliki gaya bicara yang menarik seseorang harus mengetahui beberapa elemen vokal yang mempengaruhinya. Elemen-elemen vokal tersebut adalah volume, artikulasi, pitch, intonasi dan style atau gaya berbicara. Anda perlu mengetahui warna suara atau tone suara yang Anda miliki dan hal-hal yang mempengaruhinya seperti kehangatan warna suara, antusiasme, kecepatan bicara, dan nasal.

  1. Volume, Perhatikan seberapa dekat posisi Anda dengan audiens dan berita yang dibawakan, kemudian tetapkan zona bicara Anda. Volume suara terbagi dalam dua kategori, yaitu:
  • Intimate zone, bisa diartikan pelan seperti perkataan untuk: doa, terharu, say thank, farewell, say sorry, love. Misalnya : “Senang sekali atas kehadiran teman-teman semua pada farewell party ini, tapi saya memang harus pamitan untuk beberapa saat, karena saya harus meninggalkan Jakarta untuk pindah ke Singapore sehingga hari ini hari terakhir di Jakarta… tapi ini bukan perpisahan, kalau ke Singapore silakan contact gue ntar gue traktir”

Note: kalimat yang dicetak tebal dibacakan secara intimate/pelan-pelan, sedangkan yang tidak dicetak tebal dibacakan biasa atau lebih keras. Sehingga tujuan berekspresi melalui volume bisa dilakukan.

  • Personal zone, intinya harus peka terhadap jarak. Kalau jauh ya ngomongnya agak keras, kalau deket ngomongnya lebih pelan. Jangan bikin partner bicara kita terganggu.
  1. Artikulasi, hati-hati terhadap penyebutan nama lengkap, nama produk dan perusahaan.

Contohnya:   Prudential: bunyi “prudensial” bukan “predensel”

Indonesia: bunyi “indonesiya” bukan “indonesa”

“efektif” bukan “epektip”

  1. Pitch, terbagi dalam dua kategori yaitu: hi pitch(nada tinggi), biasanya digunakan untuk membaca undang-undang, pelantikan, wisuda, deklarasi, dll dan low pitch (nada rendah), digunakan untuk meredam suasana yang memanas, menjawab pertanyaaan-pertanyaan orang yang sedang konseling.
  1. Intonasi, sangat mempengaruhi penyerapan informasi oleh lawan bicara kita. Dalam berkomunikasi, tidak mungkin semua perkataan kita dicerna oleh lawan bicara kita. Mereka hanya peduli dengan pokok kalimatnya. Untuk itu setiap pokok kalimat diberi penekanan atau intonasi yang tajam.
  1. Gaya Berbicara, Gaya atau style berbicara itu paling mudah kalau meniru tokoh idola yang karakter kepribadiannya sama dengan anda (search di youtube). Anda bisa meniru gaya bicara dari orang-orang yang punya styleyang kuat seperti: Andrie Wongso, Merry Riana, Agnez Monica, SBY, Sarah Sechan, Cinta Laura. Atau mungkin orang terdekat, seperti orangtua atau atasan Anda.

Instrument Berbicara

Kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan  (Tarigan, 2008:16). Pengertian tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan baik itu perasaan, ide atau gagasan.                    Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Komunikasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Oleh karena itu, agar dapat menyampaikan pesan secara efektif, pembicara harus memahami apa yang akan disampaikan atau dikomunikasikan. Tarigan juga mengemukakan bahwa berbicara mempunyai tiga maksud umum yaitu untuk memberitahukan dan melaporkan (to inform), menjamu dan menghibur (to entertain), serta untuk membujuk, mengajak, mendesak dan meyakinkan (to persuade).

Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuhdi (2002:169-171) mengemukakan bahwa secara umum, bentuk tes yang dapat digunakan dalam mengukur kemampuan berbicara adalah tes subjektif yang berisi perintah untuk melakukan kegiatan berbicara. Beberapa tes yang dapat digunakan

antara lain:

  1. Tes kemampuan berbicara berdasarkan gambar. Tes ini dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan sehubungan dengan rangkaian gambar atau menceritakan rangkaian gambar.
  2. Tes wawancara, yang digunakan untuk mengukur kemampuan bahasa yang sudah cukup memadahi.
  3. Bercerita, yang dilakukan dengan cara mengungkapkan sesuatu (pengalamannya atau topik tertentu).
  4. Diskusi, dengan cara meminta mendiskusikan topik tertentu.
  5. Ujaran terstruktur, yang meliputi mengatakan kembali, membaca kutipan, mengubah kalimat dan membuat kalimat.

 

Karakter Suara

Suara dihasilkan dari getaran pita suara ketika manusia berbicara atau mengeluarkan suara. Kemampuan getaran suara tersebut berbeda-beda. Beberapa orang mungkin memiliki kemampuan menggetarkan pita suara sehingga dihasilan nada suara rendah dan dalam. Sebagian yang lain mungkin saja memiliki suara tinggi. Pembagian jenis suara/jenis vokal penting untuk diketahui. Pembagian jenis suara untuk wanita adalah:

  1. Suara sopran untuk suara tinggi
  2. Suara mezzo-sopran untuk suara sedang
  3. Suara alto untuk jenis suara rendah

Pembagian jenis suara pria adalah:

  1. Suara tenor untuk jenis suara tinggi
  2. Suara bariton untuk jenis suara sedang
  3. Suara bass untuk jenis suara rendah

 

 

 

 

 

Etiket Berbusana II

Etiket Berbusana dan Penampilan (Appearance)

Berpakaian kiranya tidak sebatas terkait dengan kesehatan semata, tetapi juga terkait dengan kepribadian, citra diri, dan citra organisasi. Kita sering mendengar ungkapan bahwa kepribadian seseorang dapat dilihat dari cara berpakaian atau berbusana dan penampilannya.

Berpakaian dan berpenampilan rapi dan sopan adalah suatu kebiasaan pribadi yang perlu dipupuk dan dipelihara. Berpakaian dan berpenampilan rapi dan sopan dapat menumbuhkan rasa hormat orang lain terhadap kita. Sebaliknya, hal itu juga memberikan kesan bahwa kita menghormati orang lain yang kita jumpai atau kita temui. Dengan demikian, kita perlu memperhatikan dengan sungguh-sungguh tata karma dalam berbusana maupun penampilan untuk menjaga citra diri maupun citra organisasi kita.

Sehubungan dengan hal itu, berikut beberapa pedoman yang perlu kita perhatikan dalam berpakaian dan berpenampilan.

  • Kenakan seragam kantor yang telah ditetapkan baik berkaitan dengan bahan, warna, model, maupun waktunya.
  • Jaga keserasian dalam berbusana. Keserasian dalam berbusana lebih ditentukan oleh pemilihan warna pakaian kita secara tepat, dan sebagai pedoman yang paling mudah kita lakukan adalah memilih dan menentukan warna busana atasan dan bawahan (rok dan blus atau celana dan kemeja) dengan warna yang senada. Andaipun berbeda, kita dapat memadukan warna yang serasi. Keserasian warna ini juga berlaku untuk pemakaian jas, dasi, aksesori, ikat pinggang, sepatu, dan kaos kaki.
  • Berpakaian dengan mengenakan celana jeans, sandal, dan kaos (T-shirt) sampai saat ini masih dinilai tidak pantas dan tidak sopan bila dikenakan pada saat acara formal, termasuk di kantor. Oleh karena itu, hindari berpakaian demikian pada saat di kantor.
  • Bagi karyawati, pada saat ini sudah lazim/biasa memakai celana panjang di kantor, karena dinilai lebih bebas bergerak dan enerjik daripada mengenakan rok. Namun demikian, celana panjang yang dikenakan hendaknya bukan celana panjang yang ketat sehingga selain mengganggu gerak, juga menimbulkan kesan ”seksi”.
  • Bagi karyawati hendaknya rok (bawahan) yang dikenakan bukan rok mini, atau apabila mengenakan rok dengan belahan, hendaknya belahannya tidak terlalu tinggi. Demikian pula pemakaian blus atau atasan dengan model kerah “V”, usahakan tidak terlalu turun sehingga tampak belahan dadanya. Usahakan menggunakan blus berlengan saat kerja, bukan bermodel you can see.
  • Hindari pemakaian busana yang terlalu sempit atau terlalu longgar. Di samping itu, kantung celana atau baju jangan diisi sesuatu sampai menggembung sebab kurang sedap dipandang.
  • Pakaian harus dijaga supaya tetap bersih, tidak berbau apek, tidak bau keringat, rapi, dan tidak kusut.
  • Hendaknya make up seorang wanita tidak terlalu mencolok (terlalu tebal) terutama pada saat kerja siang hari. Bila ada kepentingan bisnis pada malam hari atau menghadiri acara tertentu, kita dapat ber-make up lebih terang dibanding siang hari.
  • Apabila kita mengenakan aksesori, hendaknya disesuaikan dengan warna pakaian yang kita kenakan, tidak berlebihan, dan tetap menjaga kesopanan. Misalnya, karyawati berambut panjang dapat mengikatnya secara rapi dengan tali atau jepitan rambut yang pantas. Jepitan yang dipakai hendaknya bukan jepitan rambut yang biasa digunakan untuk menjepit rambut saat mandi, bila kita memakai anting-anting, hendaknya kita memakai anting-anting yang tidak terlalu besar, bila memakai cincin, usahakan tidak memenuhi jari tangan, apabila karyawan laki-laki ingin mengenakan aksesori, cukup cincin di jari manis dan jam tangan.
  • Usahakan tas yang dipakai karyawati sesuai dan selaras dengan warna busana yang dikenakan. Usahakan memakai tas yang sesuai untuk ke kantor, yaitu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil seperti tas untuk pesta.
  • Apabila kita menggunakan parfum, pilih aroma yang soft, bukan yang keras atau tajam karena akan mengganggu orang lain yang sangat peka terhadap bau-bauan.
  • Untuk karyawan, lengan baju tidak perlu dilipat, baik baju berlengan pendek maupun berlengan panjang.
  • Hendaknya karyawan selalu bersepatu dan berkaos kaki. Hindari pemakaian sepatu sandal atau sandal saat di kantor. Warna sepatu hendaknya disesuaikan dengan pakaian yang dikenakan. Hal ini juga berlaku untuk pemakaian kaos kaki. Warna kaos kaki hendaknya sesuai dengan warna celana atau sepatu. Sementara untuk karyawati, sepatu yang dikenakan sedapat mungkin berhak. Warna sepatu juga sesuai dengan warna busana yang dikenakan. Bila kesulitan dalam memadu warna sepatu dengan busana, maka dapat memilih warna netral seperti hitam untuk dipadukan dengan warna busana kita. Hal ini juga berlaku untuk karyawan dalam memilih warna sepatu.
  • Bagi karyawan hendaknya selalu memakai ikat pinggang. Warna, bentuk, dan ukuran ikat pinggang harus sesuai dan selaras dengan pakaian yang dikenakan. Tidak perlu mengenakan ikat pinggang yang “aneh-aneh” hanya untuk menarik perhatian.
  • Karyawan yang berambut gondrong kiranya belum bisa diterima masyarakat karena dinilai kurang pantas dan tidak sopan, bahkan ada kantor yang secara jelas melarangnya. Oleh karena itu, hal ini perlu dihindari.
  • Apabila karyawan berkumis atau berjenggot hendaknya selalu dijaga kerapiannya.

Wardrobe Philosophy

Filosofi ini mempunyai panduan yang cukup sederhana: Pertama, pastikan Anda memiliki dasar-dasar kualitas di semua kategori pakaian, dan hilangkan pakaian dari pakaian Anda yang tidak Anda kenakan, sukai, dan sukai. Beli dasar-dasar baru untuk mengisi celah, dan ingat kualitas melebihi kuantitas. Kedua, batasi pembelian baru Anda, dapat membantu menumbuhkan lemari pakaian yang terasa sesuai dengan estetika Anda. Hasilnya adalah lebih sedikit uang yang dibelanjakan untuk barang-barang yang sebenarnya tidak Anda butuhkan, apalagi membuat frustrasi waktu yang dihabiskan untuk mencari tahu apa yang harus dipakai, dan perasaan puas yang baru ditemukan pada lemari pakaian Anda. Berikut adalah daftar dasar yang digunakan:

A basic is something that…

  1. I can wear this over and over and over again until it falls apart.
  2. Goes with everything I already own.
  3. I pretty much can’t live without it.
  4. Is the glue that helps me keep the rest of my wardrobe together.
  5. Is made of a good material that will last for a very long time.

Pemilihan Aksesoris

Aksesoris memang merupakan bagian penting dalam urusan fashion. Kalau Anda tidak menyertai aksesoris saat berbusana rasanya pasti ada yang kurang melengkapi. Bahkan kehadiran aksesoris ini bisa membuat penampilan kamu yang tadinya biasa saja semakin menonjol. Namun, terkadang sadar atau tidak kita masih sering melakukan kesalahan baik dalam memilih atau mengenakan aksesoris yang tentunya kesalahan ini mempengaruhi penampilan kita secara keseluruhan. Karena ternyata dalam pemakaian aksesoris itu ada aturan mainnya. Aturan dalam memakai aksesoris sebagai penunjang penampilan Anda:

1.  Jangan berlebihan

Segala sesuatu yang berlebihan itu memang terkadang tidak baik. Hal tersebut juga berlaku dalam penggunaan aksesoris. Sebaiknya memang tidak terlalu memberi kesan ramai dan berat pada penampilan. Apalagi jika aksesoris yang Anda pilih memiliki ukuran dan bentuk yang cukup besar, tidak perlu menambahkan aksesoris lain, jika aksesoris yang dipakai sudah terlihat menonjol, misal Anda sudah memakai kalung dengan bentuk dan ukuran yang mencolok. Hindari untuk memakai gelang, cincin atau anting dalam waktu yang bersamaan. Jika Anda masih ingin mengenakannya, pilih aksesoris yang senada baik dari pola dan temanya

2.   Pilih yang simpel

Ketika Anda memilih untuk menggunakan aksesoris usahakan untuk membuatnya terlihat simpel namun tetap membuat penampilan terlihat menarik. Jika Anda memilih aksesoris dengan ukuran yang besar, akan sangat cocok jika dipadukan dengan busana yang sederhana. Hindari busana berpayet atau pola yang penuh. Karena justru akan membuat aksesoris yang kamu kenakan terkesan bertabrakan dengan busana Anda. Bisa dicoba untuk memilih busana dress hitam dengan paduan aksesoris untuk penampilan formal atau jeans dengan t-shirt putih yang akan membuat aksesoris yang kamu kenakan lebih terlihat ‘hidup’. Tidak perlu khawatir penampilan Anda terlihat biasa saja, karena percaya atau tidak perpaduan tersebut akan membuat kamu nampak outstanding.

3.   Pemilihan anting yang tepat

Meskipun sering tertutup rambut tapi, anting merupakan salah satu aksesoris yang sebaiknya jangan dilupakan begitu saja. Karena anting akan menjadi daya tarik yang pertama kali dilihat ketika orang lain sedang berbicara dengan kita. Perlu diketahui kalau aksesoris yang satu ini penting untuk membingkai wajah Anda. Oleh karena itu sebaiknya pilih anting yang tepat dan sesuai dengan bentuk wajah. Selain itu, sesuaikan juga detil anting seperti warna dan bentuknya.

4.   Sesuaikan model kalung dengan kerah baju

Mau kalung yang Anda kenakan terlihat menonjol? Kuncinya adalah memilih kerah baju yang tepat. Seperti yang kita ketahui, bentuk kerah baju sangat lah beragam seperti model v neck, strapless, off the shoulder, dan lainnya. Untuk itu, sebaiknya Anda memiliki model kalung lebih dari satu untuk bisa menyesuaikan dengan kerah baju yang dikenakan. Sedangkan untuk pemilihan warna kalung, bisa memilih warna kalung yang netral seperti nude, hitam, atau putih. Karena warna tersebut akan mudah dipadukan dengan busana dengan corak apapun.

5.   Gunakan aksesoris pada jari tanganmu

Cincin merupakan penghias tangan yang tidak boleh kita lewatkan. Terkadang pemilihan cincin ini juga tidak jarang asal saja kita pilih, padahal sebenarnya kalau kita mau sesekali beri perhatian kecil, cincin bukan hanya sekedar pelengkap tapi sekaligus mempercantik tangan Anda. Hal pertama yang harus diperhatikan saat memutuskan untuk mengenakan cincin adalah pastikan jari kuku bersih. Apalagi ketika Anda memakai cincin berukuran besar yang menarik perhatian dan secara tidak langsung membuat mata orang tertuju pada jari tangan Anda. Bisa juga melakukan manicure sederhana untuk membersihkan jari tangan. Selain itu, perhatikan juga penggunaan cat kuku, jangan sampai warna kutek bertabrakan dengan cincin yang Anda kenakan.

6.   Gelang untuk menghiasi tanganmu

Aksesoris tangan bisa memilih gelang. Gelang jenis bangles merupakan pilihan yang tepat untuk Anda yang suka berpenampilan fashionable. Jangan kenakan secara berlebihan, jika ingin memakai beberapa bangles, gunakan pada satu pergelangan tangan saja, agar tidak terkesan terlalu ramai. Jika Anda tidak ingin mengenakan gelang terlalu banyak tapi tetap terlihat menonjol Anda bisa memilih cuff bracelet yang bisa dikenakan pada lengan. Cuff bracelet ini akan membuat penampilan Anda berbeda.

7.   Pilih aksesoris untuk menonjolkan busana

Perlu diingat bahwa aksesoris yang dikenakan harus bisa membuat busana Anda lebih hidup dan terlihat menonjol. Anda bisa sesuaikan aksesoris dengan tema tertentu. Misalnya, jika ingin tampil sopan dan menawan, pilih aksesoris dengan aksen mutiara atau kalau ingin penampilan feminim dan terkesan romantis, bisa menggunakan aksesoris dengan tema vintage atau floral warna – warni.

 

 

Daftar Pustaka

  • Henk Schulte Nordholt, Outward Apperances, terj M. Imam Aziz, (LkiS: Yogyakarta, 1997)
  • Etika dan Estetika Busana. 2000. Bandung: Sarijadi.

Etika Pergaulan dalam Bisnis

Etika Pergaulan Bisnis

Etika bisnis merupakan tanggung jawab social suatu bisnis yang timbul dari dalam perusahaan itu sendiri. Bisnis selalu berhubungan dengan masalah-masalah etis dalam melakukan kegiatannya sehari – hari. Hal ini dapat dipandang sebagai etika pergaulan bisnis. Seperti halnya manusia yang memiliki etika pergaulan antar manusia, maka pergaulan bisnis dengan masyarakat umum juga memiliki etika pergaulan yaitu etika pergaulan bisnis. Kalau dalam pergaulan antar manusia akan terjadi pergaulan atau hubungan antara anak dengan orang tua, antara murid dengan gurunya, antara mahasiswa dengan dosennya, antara seseorang dengan tetangganya dan anatara pemakai jalan yang satu dengan yang lainnya dan masih banyak lagi yang lainnya. Etika pergaulan bisnis dapat meliputi beberapa hal antara lain:

  1. Hubungan antara bisnis dengan langganan atau konsumen

Hubungan antara bisnis dengan langgananya merupakan hubungan yang paling banyak dilakukaan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulannya secara baik dalam hal ini. Adapun pergaulan dengan konsumen misalnya:

  1. Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membandingkan harga terhadap produknya.
  2. Kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi didalamnya, sehingga produsen perlu menjelaskan isi dan kandungan yang terdapat di dalam produk itu.
  3. Promosi terutama iklan merupakan gangguan etis yang paling utama.
  4. Pemberian servis dan garansi adalah merupakan tindakan yang sangat etis bagi suatu bisnis.
  1. Hubungan dengan karyawan

Manajer yang pada umumnya selalu berpandangan memajukan bisnisnya sering kali berurusan denga etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yaitu meliputi Penarikan (recruitment), Latihan (training), Promosi atau kenaikan pangkat, transfer, demosi (penurunan pangkat) ataupun lay-off atau pemecatan/PHK (pemutusan Hubungan Kerja).

  1. Hubungan antara bisnis

Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain. Hal ini bias terjadi hubungan antara perusahaan dengan pesaingnya, dengan penyaluranya, dengan grosirnya, dengan pengecernya, agen tunggalnya maupun distributornya.

  1. Hubungan dengan investor

Perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas dan yang terutama yang akan dan telah “go public” harus menjaga pemberian informasi yang jujur, karena informasi yang tidak jujur akan menjerumuskan para investor untuk mengambil keputusan investasi yang keliru. Oleh karena itu masyarakat yang calon pemodal yang ingin membeli saham haruslah diberi informasi secara lengkap dan benar. Jangan sampai terjadi adanya manipulasi terhadap informasi. Dalam hal ini peranan pemerintah serta perusahaan penjamin emisi (pialang) adalah sangat penting dalam hal memberikan informasi serta prospectus dari perusahaan yang menjual saham di pasar bursa saham.

  1. Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan

Hubungan dengan lembaga keuangan terutama Jawatan Pajak merupakan hubungan pergaulan yang bersifat financial. Hubungan ini merupakan hubungan yang berkaitan dengan Penyusunan Laporan Keuangan. Laporan financial tersebut harus disusun secara benar sehingga tidak terjadi kecenderungan kearah penggelapan pajak.
Pihak lain yang terkait dalam kegiatan bisnis tidak saja hanya para pemegang saham akan tetapi masih banyak lagi diantaranya adalah:

  1. Pekerja/Karyawan
  2. Konsumen
  3. Kreditor
  4. Lembaga-lembaga Keuangan
  5. Pemerintah

Perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan mengingat atau memperhatikan kepentingan pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan bisnis yang tidak saja hanya mementingkan kepentingan pemegang saham saja merupakan pengusaha yang menerapkan konsep baru yang dikenal sebagai konsep “Stakeholder”.

Etiket Percakapan dan Tata Krama dalam Bisnis

Etiket adalah aturan sopan santun dalam pergaulan. Mengabaikan sopan santun sering menimbulkan perselisihan atau kesalahpahaman. Etiket merupakan sarana/alat untuk kelancaran dalam pergaulan dan juga membantu dalam mencapai cita-cita kita.

Perbedaan Etiket Dan Etika :

Etiket : berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama manusia. Berasal dari bahasa Perancis: Etiquette.

Etika : berarti falsafah moral dan merupakan pedoman cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila dan agama. Berasal dari bahasa Latin : Ectica.

Manfaat Etiket dalam kehidupan manusia :

  1. Membuat seseorang disegani, dihormati, disenangi orang lain.
  2. Mendapat kemudahan dalam hubungan baik dengan orang (better human relation).
  3. Memberi keyakinan pada diri sendiri dalam setiap situasi.
  4. Dapat memelihara suasana yang baik dilingkungan keluarga, tempat kerja, dan antara teman.

Untuk lebih berhasil dalam kehidupan kita perlu memiliki :

  1. Self Confidence
  2. Self Control
  3. Body Language
  4. First Impression

Ciri Orang-Orang Yang Menghayati Tata Krama Yang Baik :

  • Memiliki rasa percaya diri pada waktu menghadapi masyarakat dari tingkat manapun.
  • Segala tingkah laku dan ucapannya mencerminkan perhatian kepada orang lain.
  • Sopan, ramah selalu menunjukkan sikap yang menyenangkan dan bersahabatkepada siapa saja.
  • Dapat menguasai diri, selalu berusaha tidak menyinggung perasaan orang lain, menyakiti atau mengganggu pikiran orang lain.
  • Usahakan tidak membuat kecewa, gusar apalagi membuat marah orang lain, walaupun diri sendiri baru atau sedang dalam keadaan sedih, kesal, lelah atau jenuh.

Perbedaan etiket timur dan barat

Dasar dari peraturan etiket adalah adat istiadat atau tradisi dari daerah dan negara tertentu, yang kadang-kadang berbeda dan bertentangan. Seperti misalnya :

  • Cara bersalaman.
  • Cara menatap mata sewaktu berjabatan tangan.
  • Saat memberi sambutan.
  • Saat menerima sesuatu (tangan kiri).

Selain mengetahui etiket bangsa sendiri, sebaiknya juga mengetahui sedikit tentang etiket bangsa-bangsa lain. Sebab hal itu akan melancarkan komunikasi dan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan tempat kita berada.

ETIKET DALAM PERCAKAPAN (CONVERSATION)

Seni pembicaraan adalah bukan mengetahui sesuatu yang harus dikatakan, melainkan sesuatu yang tidak boleh dikatakan.

Communication Field :

  1. Facial Expression.
  2. Body Position.
  3. Good (Clear) Voice.
  4. Choise of Words.
  5. Ways of using the eyes.

Hal yang diperlukan untuk dapat berbicara secara efektif:

  1. Rasa percaya diri yang kuat.
  2. Keluwesan dalam pergaulan
  3. Mempunyai persepsi yang tepat terhadap keadaan lingkungan dan individu yang terlibat dalam interaksi tersebut
  4. Dapat menguasai situasi.
  5. Mengetahui hasil yang diharapkan dari interaksi.

Hal-hal yang dihindarkan dalam percakapan:

  1. Memotong pembicaraan orang lain.
  2. Memonopoli pembicaraan atau percakapan.
  3. Membual tentang diri sendiri.
  4. Membicarakan hal-hal yang dapat menimbulkan pertentangan.
  5. Pembicaraan tentang penyakit, kematian, dll.
  6. Menanyakan harga barang orang lain.
  7. Menanyakan masalah yang sifatnya pribadi.
  8. Gosip/berita yang belum tentu kebenarannya.

ETIKET DALAM DUNIA BISNIS
Setiap pria atau wanita, karyawan dan karyawati harus menyadari bahwa penghayatan tata krama dalam lingkungan kantor atau tempat usaha adalah amat penting, karena bertujuan:

  • Memelihara suasana yang menyenangkan.
  • Menimbulkan rasa saling menghargai.
  • Meningkatkan efisiensi kerja.
  • Meningkatkan citra pribadi dan citra perusahaan.

Etiket atau tata cara pergaulan merupakan salah satu sarana penting untuk memperoleh kemajuan dan sukses dalam dunia bisnis. Etiket berguna untuk mempermudah kelancaran pelaksanaan kegiatan bisnis. Untuk menciptakan suasana yang menyenangkan di lingkungan kerja, dan membantu berhasilnya urusan bisnis agar lancar dan efisien.

 

Daftar Pustaka

  • Erwin Parengkuan & Becky Tumewu, Personal Brand-inc, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2014
  • 1996. Etika, Filsafat Tingkah Laku. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Robinson, Dave dan Chris Garrat. 1994. Mengenal Etika – For Beginners. Bandung: Mizan.

 

 

Personal Brand

Created Personal Brand

Berbicara tentang personal branding, berarti berbicara mengenai individu, atau diri kita sendiri. Personal branding akan berbeda dengan corporate branding yang biasa kita kenal pada umumnya. Personal branding adalah bagaimana kita sebagai individu, memiliki merk untuk diri kita sendiri sehingga kita semua dapat dibedakan satu sama lainnya.

Jika kita amati, personal brand paling awal dan paling dasar yang dimiliki oleh seorang manusia adalah namanya. dengan nama itu kita kemudian masih bisa dibedakan antara satu dengan yang lain. Dengan nama itu pula kemudian kita dikenal orang, dan dengan nama itu pula pada akhirnya kita dapat menimbulkan persepsi bagaimana orang menilai dan memandang kita.

Di situlah peran utama personal branding yaitu bagaimana menciptakan persepsi atau penilaian orang terhadap diri kita secara personal. Walaupun mungkin sama-sama memiliki nama, tetapi banyak orang yang mengartikannya berbeda-beda. Misalnya ketika seseorang mendengar nama si A, orang akan langsung teringat bahwa dia adalah arsitek hebat. Jika mengenal nama si B, maka orang akan mengingat bahwa dia pengusaha sukses. It’s personal branding, personal branding guarantee a quality perception.

Bagaimana kita membangun personal branding pada diri kita?

  1. Temukan Brand Anda. Temukan terlebih dahulu apa brand yang ingin Anda ciptakan. Creative Mobile Photographer, misalnya? Atau adakah hal-hal lainnya yang membuat Anda ingin dikenal sebagai apa. Jika perlu Anda melakukan kontemplasi dan bertanya kepada diri sendiri
  2. Personal Integrity. Setelah Anda menemukan brand Anda, maka selanjutnya adalah menanamkan integritas dan karakter dari brand itu ke dalam diri Anda. Jika perlu, gaya Anda berpakaian, gaya Anda berbicara, berjalan, bacaan Anda, semua menunjukkan kalau memang itulah brand Anda. Maka pastikan brand Anda muncul dari hati yang paling dalam dan tulus. Menjadi seseorang yang memiliki personal branding berarti menjadi diri sendiri.
  3. Positioning. Personal branding merupakan intangible asset yang bisa jadi akan menjadi aset Anda paling berharga di masa yang akan datang, terutama dalam karir, bisnis, dan pekerjaan Anda. Seperti yang tadi sudah dibahas di awal, memiliki personal branding yang kuat membuat Anda menjadi remarkable people, seseorang yang luar biasa, memiliki perbedaan, dan ada nilai tambah dibandingkan individu lainnya. Inilah salah satu manfaat besar dalam memiliki personal branding. Maka, pastikan setelah Anda menemukan brand, buat positioning yang kuat dengan mengerucutkan brand Anda. Saya misalkan melakukan branding sebagai praktisi entrepreneurship dalam digital era, di mana salah satunya terdapat topik studentpreneurship, yaitu membangun bisnis sejak masih mahasiswa. Semakin spesifik, ahli, maka akan semakin bagus.
  4. Portfolio dan Produktivitas. Cara memperkuat personal branding adalah memberikan bukti-bukti portfolio tentang brand yang kita bangun. Saya misalkan ingin melakukan brand diri saya sebagai penulis, maka saya membuktikannya dengan menulis untuk blog, media massa, dan media online lainnya, maka itulah kemudian yang menjadi portfolio yang membangun brand saya. Jika Anda ingin menjadi seorang trainer, maka perbanyaklah portfolio berupa buku, video, audio, atau tulisan-tulisan tentang bidang Anda. Kalau fotografer, maka tampilkanlah foto-foto terbaik yang pernah Anda dapatkan sehingga membantu Anda dalam membangun trust.

Membangun personal brand membutuhkan waktu dan usaha, tapi ada baiknya. Kebutuhan akan personal brand akan terus meningkat. Ini adalah satu hal yang tidak dapat diambil seseorang dari Anda dan hal itu dapat mengikuti Anda sepanjang karir Anda. Ini adalah persyaratan kepemimpinan yang memungkinkan orang tahu siapa Anda dan apa yang Anda inginkan.

Natural Personal Brand

Ada 2 macam Personal Branding :

  1. Alami (natural), yaitu seseorang yang dengan alami sudah melakukan personal branding tanpa disadarinya. Biasanya muncul karena orang itu memiliki nilai, prinsip, prestasi, serta kemampuan yang mumpuni dalam satu bidang tertentu.

Contoh: Jusuf Kalla

Beliau menjadi wakil presiden dan sukses menjadi pengusaha. Namun ketika masa tugasnya (Wapres 2005-2009) selesai, beliau tidak menghilang dan tetap eksis dengan tanggung jawab dan peran yang berbeda, sebagai pemimpin di PMI. Kemudian kembali menjadi wakil presiden (2014-2019). Jusuf Kalla termasuk Natural Personal Branding. “Beliau tidak begitu mengerti dan memahami apa itu Personal Branding. Beliau menjalankan hidup dengan segala sesuatu yang baik dan secara tidak sengaja terbentuk Personal Brandingnya. Singkatnya terkait Personal Branding, Jusuf Kalla menekankan pada peningkatan prestasi dan konsistensi.

2. Buatan (by design), yaitu seseorang yang dengan sengaja menciptakan personal brandingnya untuk mencapai hal tertentu. Seseorang bisa membentuk personal brand sesuai dengan keinginannya melalui berbagai upaya yang dilakukan secara berkelanjutan.

Self Concept

Self concept merupakan bagian penting dalam perkembangan kepribadian. Seperti dikemukakan oleh Rogers bahwa konsep kepribadian yang paling utama adalah diri. Diri (self) berisi ide-ide, persepsi-persepsi dan nilai-nilai yang mencakup kesadaran tentang diri sendiri. Konsep diri merupakan representasi diri yang mencakup identitas diri yakni karakteristik personal, pengalaman, peran, dan status sosial (Desmita, 2012).

Self concept menurut Baron & Byrne (dalam Helmi, 1999) merupakan suatu asumsi-asumsi atau skema diri mengenai kualitas personal yang meliputi penampilan fisik (tinggi, pendek, berat, ringan, dsb), trait / kondisi psikis (pemalu dan pencemas) dan kadang-kadang juga berkaitan dengan tujuan dan motif utama. Self concept dapat dikatakan merupakan sekumpulan yang dipegang oleh seseorang tentang dirinya. Menurut Soemanto (1998) self concept (konsep diri) adalah pikiran atau persepsi seseorang tentang dirinya sendiri, merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi tingkah laku.

Sementara itu Seifert & Hoffnung, mendefinisikan self concept sebagai “suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang diri sendiri”. Sementara itu, Atwater menyebutkan bahwa self concept adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya. Selanjutnya Atwater mengidentifikasi self concept atas tiga bentuk. Pertama, body image, kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri. Kedua, idea self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya. Ketiga, social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.

Menurut Bruns, self concept adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri. Sedangkan Pemily mendefinisikan self concept sebagai sistem yang dinamis dan kompleks dari keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut. Sementara itu, Cawagas menjelaskan bahwa self concept mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kelebihannya atau kecakapannya, kegagalannya, dan sebagainya (Desmita, 2012).

Self concept adalah pengetahuan dan gagasan seseorang tentang dirinya serta sikap terhadap diri dan perilakunya. Self concept dibagi menjadi self concept positif dan konsep diri negatif. Hurlock (dalam simanjutak, 2009) menyatakan individu dengan konsep diri positif akan mengembangkan sikap-sikap seperti kepercayaan diri, harga diri dan kemampuan untuk melihat dirinya secara realistis. Kemudian individu dapat menilai hubungan dengan orang lain secara tepat dan akan menumbuhkan penyesuaian sosial yang baik. Sebaliknya, self concept negatif akan mengambarkan perasaan tidak mampu dan rendah diri. Individu akan merasa ragu dan kurang percaya diri.

Menurut Bruns (1993) suatu self concept yang positif dapat disamakan dengan evaluasi diri yang positif, penghargaan diri yang positif, penerimaan diri yang positif; self concept yang negatif menjadi sinonim dengan evaluasi diri yang negatif, membenci diri, perasaan rendah diri dan tiadanya perasaan yang menghargai pribadi dan penerimaan diri.

Dari beberapa teori diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa self concept merupakan sikap kepercayaan dirinya dan keyakinan mengenai kelemahan dan kelebihan yang ada pada dirinya serta karakteristik fisiknya yang terbentuk melalui persepsi dan interpretasi terhadap diri sendiri dan lingkungannya.

 

Daftar Pustaka

  1. Burns, R. B. (a.b Eddy). (1993). Konsep Diri (Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku). Jakarta: Arcan.
  1. Erwin Parengkuan & Becky Tumewu, Personal Brand-inc, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2014.
  1. McNally, D., & Speak, K. D. (2002). Be Your Own Brand. San Fransisco: Berret Koehler Publisher.

 

Review Materials & Pre-test TOEFL

TOEFL

Everyone knows that the best way to prepare yourself for your TOEFL test  is to practice. But, you also know that your practice must include more than just sets of questions. You must also prepare for the format, timing, and pacing of the TOEFL exam. The best way to do this is to take a TOEFL practice test.

TOEFL Preparation:

  Improving your TOEFL vocabulary 
Read a Lot
Make Flash Cards
Make Word Lists
Learn Words from Old TOEFLs
Learn to Use a Thesaurus

  Building your vocabulary 
Developing Word Attack Skills
Word Roots
Prefixes
Suffixes

  Important vocabulary building tools 
The Dictionary
The Thesaurus

  The essential TOEFL vocabulary 
Studying the Word Entries

TOEFL Exercises – Structure:

1. This new service will be available to all users _______ up for paid membership.

A. that signed          B. that signed it      C. which signed           D. sign

2. That is a story of hardship _______ our own situation into perspective.

A. puts            B. it puts                C. that it puts                   D. that puts

3. John Smith, _______ of economic crimes, tax evasion and fraud, is being accused of attempted murder now.

A. of that he was accused                         C. whom he was accused

B. that was accused                                     D. who was accused

4. _______ getting the highest result in the class, John still had problems with the teacher.

A. Despite of     B. In spite of        C. Even though     D. Nonetheless

5. After the discovery of the abandoned getaway vehicle, ________ believed to be hiding in the nearby Riverside forest region.

A. that the bank robber is                    C. the bank robber is

B. the bank robber who                        D. the bank robber who is

 

Written Expression:

  1. (A) All the scouts got (B) theirselves ready for (C)the long camping trip by spending their weekends (D) living in the open.
  2. In 1927 Charles Lindbergh (A) was the first to (B) fly solo nonstop from New York to Paris (C) in such (D) short time.
  3. (A) After driving for twenty miles, he suddenly (B) realized that he (C) has been driving (D) in the wrong direction.
  4. (A) Marta being (B) chosen as the most (C) outstanding student of her campus made (D) her parents very happy.
  5. Ralph (A) has called his lawyer last to (B) tell him about his problems, but was told (C) that the lawyer (D) had gone to a lecture.

Reading Comprehension:

Did you hear? The genome of the banana has been sequenced, an important development in scientist’s efforts to produce better bananas.
A look at that genome has revealed curious things, said Pat Heslop-Harrison, a plant geneticist at the University of Leicester in England who was a coauthor of the report published this week in the journal Nature.
For example, there are regions of the banana genome that don’t seem to be involved in making proteins but are shared by many different species of plants, far beyond bananas. What, he wonders, are they doing?
There are remnants of bits of banana streak virus spliced into the banana genome (too broken-up to cause disease, however).
There are whole sets of DNA repeats that plants normally have but bananas do not. And, intriguingly, three times since this genus of giant herbs took an evolutionary turn away from its relatives — the grasses — it has duplicated its entire set of chromosomes.
Two of the doublings took place at the Cretaceous-Tertiary boundary 65 million years ago, back when the dinosaurs and lots of other species went extinct, Heslop-Harrison noted.
Duplications like this are known to have happened in other plant groups at this same time but haven’t occurred since, Heslop-Harrison said. Scientists don’t know why, but they believe having extra copies of genes may have imparted some stability to plants during a time of rapid climate change after an asteroid hit Earth.
Having more than one gene of each type means that if one gene of a set loses function, the plant still has another one that works. And there’s more room for adaptability to new circumstances, because one gene could be altered and co-opted for new purposes and there would still be the other one left to perform the original job.
“Perhaps it’s the reason [bananas have] done so well in the subsequent millions of years,” Heslop-Harrison said. “One can ask, will changes occurring in the world’s climate now mean there’s going to be a whole set of new genome duplications that will enable plants to survive? We don’t know that, but it’s interesting to consider.”
The banana genome sequenced by the French scientists was from the Pahang, a wild Malaysian banana of the species Musa acuminata. It’s a key species in the complicated evolution of the bananas and plantains people eat around the world, including the Cavendish banana that we buy at the supermarket.
The sterile Cavendish is a so-called triploid: It has three sets of chromosomes instead of the normal two. One of those genomes came from Pahang. The others came from other subspecies of Musa acuminata.
The changes occurred stepwise, and went something like this:

  • Thousands of years ago, two wild banana species from different parts of the islands of Southeast Asia were brought into the same range by people. They formed hybrids. A bit like mules, the hybrids were vigorous but fairly sterile.
  • The hybrids were kept going without sex through propagation of their shoots.
  • At some point, the hybrids developed the ability to set fruit without being fertilized.
  • Then (for most bananas, including the Cavendish) came another chance event that caused the hybrids to end up with three sets of chromosomes. Every now and again, the few viable eggs and pollen that they made would mistakenly contain two sets of chromosomes instead of just one.

When a double-chromosome pollen combined with a single-chromosome egg (or vice versa), the result was a hopelessly sterile plant with even more vigorous fruit.

Events like this happened more than once and sometimes included other types of ancestral banana species.
Some scientists, in fact, have made a whole study of banana domestication and movement around the world. They’ve pieced the story together using quite different strands of information, including the genomes of wild and cultivated bananas, the microscopic relics of banana leaf material found at archaeological sites, and even the word for “banana” in different languages.

  1. In paragraph 2, the word “curious” is closest in meaning to

A. Inquisitive          B. peculiar                 C. nosy                      D. intricate

  1. What does paragraph 5 suggest about bananas?

A. The banana genus may not yet be classifiable into a traditional category

B. Bananas are actually a species of grass

C. Bananas may now be categorized as “herbs” in supermarkets

D. Because banana chromosomes duplicate themselves, they have better potential for successful cloning

  1. Why does the author use “intriguingly” to describe the phenomenon in paragraph 5?

A. To imply that bananas are far more interesting than other fruits

B. To make readers doubt the claims scientists are making about bananas

C. To suggest that duplication of chromosomes is a rare and interesting occurrence in the plant world

D. To encourage questions about whether bananas are grasses or herbs

  1. Why is the observation in paragraph 6 important?

A. It suggests that the banana mutated its genetic structure for survival

B. It shows that bananas can be traced as far back as dinosaurs

C. It suggests that bananas were fatal to dinosaurs and other species

D. It proves that bananas are immune to atmospheric changes

  1. The word “co-opted” in paragraph 8 is closest in meaning to

A. decided upon together              C.removed from the study

B. argued against                                D. adopted

  1. The quote in paragraph 9 most closely suggests

A. Bananas may be an example of ways that species might alter their genetics to survive changes in the earth’s climate and atmosphere

B. That the genetic mutations of bananas have no implications for other species

C. That genetic structure is the only factor that should be considered when predicting survival

D. Though bananas have made it this far, there is no proof that they will survive the next wave of significant atmospheric changes.

  1. According to the article, all are steps in the evolution of the banana EXCEPT

A. Some banana hybrids began to develop three sets of chromosomes

B. The merging of two different banana species

C. Bananas reproduced widely and easily through fertilization

D. Bananas developed the ability to develop fruit without fertilization

  1. The word “chance” in paragraph 16 is closest in meaning to

A. Random           B. gamble                C. risky                      D. opportune

  1. All are variations of banana mentioned in the article EXCEPT

A. the Cavendish                      C. Musa acuminate

B. Dolus mundi                           D. plantains

10. The word “domestication” in the final paragraph is closest in meaning to

A. housebroken               C. adapted for human consumption

B. well-controlled           D. accepted within the culture

 

Bibliography

  • Jolene Gear and Robert Gear, (2002). Cambridge Preparation for the TOEFL Test. Cambridge University Press.
  • Deborah Phillips, (2001). Longman Complete Course for the TOEFL Test. A Pearson Education Company.
  • Reallyenglish, TOEFL 2, E-Learning Program. RE Online Indonesia.

Structure & Written Expression (Causative & Passive In Perfect Tense)

Structure & Written Expression

This section is designed to measure your ability to recognize language that is appropriate for standard written English. There are two types of questions in this section, with special directions for each type.

Structure
Directions

Questions 1-2 are incomplete sentences. Below each sentence you will see four words or phrases marked A, B, C and D. Choose the one word or phrase that best completes the sentence.

Examples
  • Geysers have sometimes been compared to volcanoes __________ they both emit hot liquids from below Earth’s surface.
  • A) despite
  • B) because
  • C) in regard to
  • D) as a result of

The sentence should read, “Geysers have sometimes been compared to volcanoes because they both emit hot liquids from below Earth’s surface.” Therefore, you should choose B.

 

  • During the early period of ocean navigation, __________ any need for sophisticated instruments and techniques.
  • A) so that hardly
  • B) when there hardly was
  • C) hardly was
  • D) there was hardly

The sentence should read, “During the early period of ocean navigation, there was hardly any need for sophisticated instruments and techniques.” Therefore, you should choose D.

Written Expression

Directions

In questions, each sentence has four highlighted words or phrases. The four highlighted parts of the sentence are marked A, B, C and D. Identify the one highlighted word or phrase that must be changed in order for the sentence to be correct.

Examples
  1. Guppies are sometimes (A) call rainbow fish (B) due to the (C) bright colors of (D) the males.

The sentence should read, “Guppies are sometimes called rainbow fish due to the bright colors of the males.” Therefore, you should choose A.

 

  1. (A) Serving several (B) term in the Congress, Shirley Chisholm (C) became a (D) respected political figure.

The sentence should read, “Serving several terms in the Congress, Shirley Chisholm became a respected political figure.” Therefore, you should choose B.

 

Causative

 

Causative “have” or “get” means a sentence in which a subject asks the object to do the work. In other words, the subject does not do the work. Causative is often used in conversation.

 

For examples:

  1. We have the mechanic repair our car. From this sentence we may conclude that subject “we” does not repair the car, but it is the object “mechanic” does it. The above sentence has the same meaning with: We get the mechanic to repair our car or We ask the mechanic to repair our car.
  2. The family has someone cut the tree in the yard. This sentence has the same meaning with : The family gets someone to cut the three or The family asks someone to cut the three. From these three sentences we may conclude that the family does not cut the three but someone does  it.

 

Remember, causative have does not apply infinitive to after the object.  (The manager has his secretary type the document) while causative get does (I get my first son to clean the room). Both causative “have” and “get” have the same meaning.

 

Take a look at the following sentences.

  1. The old mother has her daughter cook the meal.
  2. The professor has his assistant give tutorial to his 25 post-graduate students.
  3. They get me to turn of the light.
  4. She had me park her car yesterday in department store.
  5. They get me to phone the suppliers

 

 

 

Causative “have” or “get” can be in active or in passive form.

 

Look at the following sentences.

  1. I have Bill kill the snake (Active sentence)

I have the snake killed by Bill (Passive sentence)

  1. They get me to deposit money (Active sentence)

They get money deposited by me (Passive sentence)

  1. She has the servant wash the dishes (Active sentences)

She has the dishes washed by the servant (Passive sentences)

Determine which are active and passive sentences

  1. We will have the police arrest the thief.
  2. They will get someone to draw up money from the bank.
  3. She had her clothes ironed by her youngest sister last Friday.
  4. He has his hair cut by a barbershop.
  5. We got the house built in 2011.

 

On Toefl test the passive form might be possible to appear.

  1. We have the topics ______________in seminar.

(A) Discuss

(B) Discussed

(C) Discussing

(D)To discuss

The correct answer is B because it is passive sentence. Passive sentence will use verb III (past participle)

 

  1. They get a popular actor ________the new products

(A) Promote

(B) To promote

(C) Promoted

(D) Promoting

The correct answer is B, because it is active sentence and using “get”.

 

Passive In Perfect Tense

 

Passive sentences of present perfect tense

Form of Passive Sentences:

Subject + Has/Have + Been + Past Participle + Object

Example:

  1. TOEFL has been studied by me for five months
  2. TV has been watched by my sister since this morning.
  3. Lunch has been eaten for three minutes
  4. Their home works have been finished by them.
  5. The games have been played by the players for a long time.

Passive sentences of past perfect tense

Subject + Had + Been + Past Participle + Object

Example:

  1. This guitar had been tuned before I broke a string and had to tune it again.
  2. This house had been painted pink before it was given a fresh coat of paint. Now it’s blue.
  3. These bees had been kept in a large hive before they were taken out and examined by the beekeeper.
  4. This man had been given Novocain before the dentist started working on a cavity that needed a filling.

How to use Present Perfect continuous in Passive form?

Although Present Perfect Continuous is less commonly used in its Passive form. I want to know if it’s possible to use a sentence below in its passive form.

Active:

I have been telling him a long story and not finished yet.

 

Passive:

  1. He is being told a long story by me but not finished yet.
  2. He has been told a long story by me but not finished yet.

 

Is No.1 correct?

What I want to know is whether if I could use the option one as a Passive form of the original statement? or how would a native speaker express that statement in its Passive form?

 

Bibliography

  • Jolene Gear and Robert Gear, (2002). Cambridge Preparation for the TOEFL Test. Cambridge University Press.
  • Deborah Phillips, (2001). Longman Complete Course for the TOEFL Test. A Pearson Education Company.
  • Reallyenglish, TOEFL 2, E-Learning Program. RE Online Indonesia.

Listening Comprehension (Listening Part C)

Listening Comprehension

The Listening Comprehension section tests your ability to understand both short and long conversations in English. The section contains recorded material that is similar to what you might hear if you were with a group of students at an English-speaking college or university. The language includes:

  • vocabulary and idiomatic expressions common to spoken English
  • special grammatical constructions used in speech

There are three parts to this section, with special directions for each part. Answer all questions based on what is stated or implied by the speakers you hear.

Listening Part C

The answers in Listening Part C are generally found in order in the talk (as they were in Listening Part B). This means that as you listen to the talk, you should be thinking about the answers to the questions in the order that they are listed in the test book.

Directions

In this part of the test you will hear several talks. After each talk, you will hear some questions. The talks and questions will not be repeated.

After you hear a question, read the four possible answers and choose the best answer.

Here is an example.

On the recording, you will hear:

 (narrator)

 

(man)

Listen to an instructor talk to his class about a television program.

I’d like to tell you about an interesting TV program that’ll be shown this coming Thursday. It’ll be on from 9 to 10 p.m. on Channel 4. It’s part of a series called “Mysteries of Human Biology.” The subject of the program is the human brain — how it functions and how it can malfunction. Topics that will be covered are dreams, memory, and depression. These topics are illustrated with outstanding computer animation that makes the explanations easy to follow. Make an effort to see this show. Since we’ve been studying the nervous system in class, I know you’ll find it very helpful.

Here is an example.

You will hear:

 (narrator)     What is the main purpose of the program?

In your test book, you will read:

A. It is required of all science majors.

B. It will never be shown again.

C. It can help viewers improve their memory skills.

D. It will help with course work.

The best answer to the question, “Why does the speaker recommend watching the program?” is D, “It will help with course work.” Therefore, the correct choice is D.

Remember, you are not allowed to take notes or write in your test book.

 

Bibliography

  • Jolene Gear and Robert Gear, (2002). Cambridge Preparation for the TOEFL Test. Cambridge University Press.
  • Deborah Phillips, (2001). Longman Complete Course for the TOEFL Test. A Pearson Education Company.
  • Reallyenglish, TOEFL 2, E-Learning Program. RE Online Indonesia.

Reading Comprehension (Vocabulary Builder & Antonym)

Vocabulary Builder

In order to improve your vocabulary, first you will need a good dictionary. To learn English words, as well as to learn TOEFL words, you can use a free English dictionary online. Of course, an English dictionary will also help with spelling words correctly. To learn words and improve vocabulary you may also wish to purchase vocabulary study materials, such as a vocabulary builder. A vocabulary builder is a method of learning vocabulary and improving vocabulary skill through books.

A strong knowledge of English vocabulary is understandably important in scoring well on the TOEFL. All four areas of the exam involve reading and understanding the meaning of many English words and phrases. The reading section focuses largely on the test taker’s ability to figure out words in context. By using the words and sentences around a difficult word or passage, the reader can figure out the meaning of the unfamiliar word. The grammar section tests the taker’s ability to figure out a specific grammatical error within a sentence or passage and to complete a missing part of a sentence. Even here, it is important to have a strong command of English vocabulary in order to figure out which grammatical rules apply. Interpretation of what you hear is the crux of the Listening portion of the exam. To score well on this section you must be able to differentiate between specific English phraseology, idioms, and homophones. The final segment of the TOEFL, the Written Essay, asks the test taker to write an essay on a given topic, and to support their position. Writing an effective persuasive essay involves many aspects of vocabulary, including easily producing the correct words at will, forming words into sounds sentences and paragraphs, and using accurate grammar.

Each Vocabulary item consists of a sentence (which may or may not be drawn from a published source) with one word or phrase highlighted. Each sentence has a highlighted word or phrase. Below each sentence are four other words or phrases, marked A, B, C or D. Choose the one word or phrase that best keeps the meaning of the original sentence if it is substituted for the highlighted word or phrase.

Example:

It is difficult to get young people to plan for their old age, which seems very distant to them.

A. impossible        B. far away         C. observable         D. fearful

The correct choice is B.

Reading Comprehension

This section test is designed to measure the ability to read and understand the type of short passages that high school students studying English as a Foreign Language are likely to encounter. You will read a variety of short passages on academic subjects. Each passage is followed by a number of questions about the material.

Directions

In this section you will read several passages. Each one is followed by several questions. You are to choose the one best answer, A, B, C or D, to each question.

Answer all questions about the information in a passage on the basis of what is stated or implied in that passage.

Passage

 

 

 

 

 

Line

5

 

 

10

A new atomic clock being developed for navigation

satellites will perform better than previous devices. The

clock will use a new microwave cavity design to

provide a compact and lightweight package and new

electronic techniques to maintain long-term stability.

The clock can provide precise navigation information

because it is stable to one second in three million

years. The differences in the time when signals from

four satellites arrive at one location can be used to

calculate that position to within a few yards.

Example:

From the passage, it can be inferred that which of the following characteristics of the clock mentioned will be most impressive?

A. Its compact size      B. Its weight       C. Its accuracy     D. Its ability to measure distance

The passage discusses that the navigation information provided by the clock is very precise. Therefore, you should choose answer C.

Antonym

An antonym is a word that is the opposite meaning of another. It comes from the Greek words “anti” for opposite and “onym” for name. Since language is complex, people may at times, disagree on what words are truly opposite in meaning to other words.

Sometimes you need to take two steps to enlarge your findings when doing antonym research:

Step 1: Search for the antonyms for a word.

Here is an example of antonyms for the word “good”

bad, badly, badness, evil, evilness, ill, malevolent, malicious, poorly, wicked

Step 2: Search for synonyms of the antonyms identifed in step one.

If you take the first antonym listed, “bad,” and search for synonyms, you would be shown 73 synonyms for “bad.” That would give you a lot of antonyms to choose from when looking for that perfect antonym for good, including words such as: awful, dreadful, hard, hopeless, inferior, lousy, painful, rotten, severe, stale, terrible, and tough.

Example:

Lou approved of the behavior his respectful sons displayed during the church service this week. What is an antonym of ‘approve’? ………

A. commend       B. support       C. reject       D. like

The correct choice is C.

Categories of Antonyms

 

There are three categories of antonyms:

  • Graded antonyms – deal with levels of the meaning of the words, like if something is not “good”, is may still not be “bad.” There is a scale involved with some words, and besides good and bad there can be average, fair, excellent, terrible, poor, or satisfactory.
  • Complementary antonyms – have a relationship where there is no middle ground. There are only two possibilities, either one or the other.
  • Relational antonyms – are sometimes considered a subcategory of complementary antonyms. With these pairs, for there to be a relationship, both must exist.

 

Bibliography

  • Jolene Gear and Robert Gear, (2002). Cambridge Preparation for the TOEFL Test. Cambridge University Press.
  • Deborah Phillips, (2001). Longman Complete Course for the TOEFL Test. A Pearson Education Company.
  • Reallyenglish, TOEFL 2, E-Learning Program. RE Online Indonesia.